MENJADI WARTAWAN UNTUK DIRI SENDIRI

by - Desember 28, 2016


Percaya atau tidak, kita adalah wartawan bagi diri kita sendiri. Hal ini menyangkut berbagai macam aspek kehidupan mulai dari ekonomi, sosial, politik dan agama yang sejatinya saling berkesinambungan. Dari segi ekonomi misalnya, kita bertanya pada diri kita terkait apa-apa saja yang ingin kita beli. Ada beberapa opsi, yaitu melakukan pembelian dengan perencanaan yang matang ataupun melakukan pembelian secara spontan. Misalnya, apabila ingin membeli sarapan (buat anak kos nih), ada yang udah berencana beli ayam goreng tapi ada pula yang yaudah lah adanya apa, ya itu yang gue beli.
Dalam konteks Indonesia, ini mungkin bukan persoalan yang memusingkan. Namun, bagaimana dengan konteks luar negeri? Atau pun jika di dalam negeri, bagaimana jika kita termasuk minoritas? Apakah semudah itu menemukan makanan  yang sesuai dengan apa yang kita inginkan seharusnya makan?
Kita ambil contoh orang Hindu yang kalo ngga salah nggak boleh makan sapi. Boro-boro makan rendang (yang terbuat dari daging sapi asli pilihan dan diolah oleh mamak dengan penuh cinta kasih), mau beli pentol aja mereka harus berpikir dua kali, jangan-jangan itu dibuat dari daging sapi. Hal ini benar-benar terjadi kepada seorang teman yang beragama Hindu. Sebut saja namanya Ni Putu (karena emang namanya Ni Putu). Waktu itu seusai belajar bersama di rumah seorang teman (ciye belajar), kebetulan ada abang jualan pentol lewat. Om pentol om. Kami kemudian memutuskan untuk membeli. Tentu saja tidak ada masalah bagi teman-teman non-Hindu, tapi ternyata tidak bagi Ni Putu. Disaat kami sudah menimbang dan memutuskan porsi untuk pentol, tahu dan siomay yang akan dimasukkan ke plastik berukuran tanggung warna putih, wajah Ni Putu tiba-tiba kurang bersemangat. Ia kemudian melontarkan satu pertanyaan yang mungkin menjadi salah satu dari unfamiliar question kepada abang penjual pentol: ini terbuat dari sapi, bang?, tanya Ni Putu. Suasana sempat freeze sejenak, termasuk kami (terutama saya). Ini benar-benar pertanyaan yang jarang diberikan oleh (calon) pembeli pentol kojek. Dengan agak tidak yakin si abang menjawab, iya neng ini dari daging sapi. Betapa semakin kuyu wajah Ni Putu mendengar jawaban penjual pentol tersebut. Ya sudah bang saya engga jadi beli, ucapnya dengan senyum kecut. Ia lantas meletakkan kembali plastik putih yang sudah sempat ia ambil.
Saya masih ingat betul reaksi saya pada waktu itu. Saya ingin memberitahu Ni Putu bahwa omg nonsense banget kalo pentol kojek seratusan gini terbuat dari daging sapi, paling banter juga daging ayam, namun tentu itu hanya berhenti pada tataran pikiran. Sebab, selain tidak ingin melukai harkat dan martabat sang penjual, saya juga tidak ingin mengobrak-abrik sistem kepercayaan yang sudah dianut semenjak lahir oleh teman saya ini. Mungkin dia ingin menjadi Hindu sejati dengan mematuhi nilai-nilai yang diharapkan oleh agama padanya. Seringkali, minoritas memang butuh kesabaran ekstra, seperti Ni Putu yang hanya bisa menelan ludah ketika melihat teman-teman lainnya melahap pentol seplastik gede. Sementara, si abang pentol tampaknya masih tak mengerti dengan apa yang terjadi hingga seorang teman akhirnya ambil suara, teman saya ini Hindu, bang. Engga boleh makan sapi. Si penjual pentol hanya mengangguk pelan. Sepertinya ia sedikit menyesal karena telah kehilangan satu pembeli. Meski nampak kecewa, tapi ya sudahlah.
Hal serupa juga dialami oleh teman saya yang lain ketika pergi ke Korea Selatan untuk audisi girlband mengikuti acara semi-akademik. Dia seorang wanita muslim dan berhijab (dan kpopers). Usai rampung mengikuti acara dan pulang ke Indonesia, ia dengan bersemangat menceritakan apa saja yang ia alami di sana, mulai dari udara dingin yang membuatnya menggigil (suhu di bawah nol derajat), melihat orang mabuk tidur di pinggir jalan, ketemu artis yang sedang melakukan shooting, hingga salah naik kereta dan akhirnya ketinggalan pesawat. Ia juga menceritakan betapa rasisnya orang Korea melihat wanita berhijab di tempat umum, juga susahnya mencari makanan yang tidak mengandung babi.
Lu tau ya, gue disana ngga sengaja makan mandu yang ternyata itu terbuat dari babi. Gue sedih banget, rasanya pingin nangis di tempat. Tapi apa daya, mandunya juga udah gue telen. Enak sih, tapi babi., ucapnya. Abis gue nyesel, akhirnya gue lebih selektif lagi pilih makanan. Pas di supermarket kan gue beli ramyun, nah gue pesen ke abang yang jual pokoknya gue beli ramyun yang no pork. No pork oppa, jebal (no pork sir, please). Dan lu tau kaga, ternyata dari sekian banyak ramyun yang di display di supermarket, cuma 2 yang ngga ada babinya. Cuma 2 cuy. Semuanya mengandung babi termasuk ramyun-ramyun yang dijual di Indonesia, tambahnya dengan ekspresi agak melotot. Saya cuma bisa manggut-manggut.
Mulanya saya belum dapat menarik kesimpulan dari kedua cerita tersebut. Namun lama-kelamaan saya menyadari bahwa mereka berdua sejatinya adalah seorang wartawan bagi diri mereka. Mereka bertanya kepada diri mereka sendiri: mengapa mereka tidak boleh memakan makanan dari jenis tertentu dan apa yang membuat mereka mematuhi aturan tersebut. Dari dua pertanyaan itu setidaknya saya mendapatan sebuah kesimpulan general bahwa mereka adalah bagian dari golongan tertentu dan mereka ingin tetap menjadi bagian dari golongan itu. Ya, ini adalah tentang identitas, di mana sesuai dengan sabda Rasulullah yang berbunyi: Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka. (HR. Abu Dawud).
Dalam dunia sosial pun juga demikian. Ada tipe orang yang talkative dan mudah beradaptasi, sementara yang lain tidak. Fenomena ini benar-benar mudah dilihat, terutama di era semenjak munculnya media sosial seperti Facebook dan Instagram, juga instant messenger seperti LINE dan Whatsapp. Tidak sedikit dari mereka yang suka ngoceh tiada henti, hingga berujung pada bergunjing alias rasan-rasan. Rasan-rasan kini tidak saja hadir dalam bentuk tulisan, tapi juga gambar dan video. Persoalan trivial di Instagram seperti eh si A putus loh sama si B atau aduh anak ini sekarang lho suka ngeshare video-video politik hoax seolah tidak asing lagi di telinga kita. Satu pelajaran yang bisa dipetik dari fenomena ini adalah tentang bagaimana menempatkan diri dalam pergaulan. Kesadaran untuk menekan ego tidak semata-mata untuk menghindari diri kita agar tidak dicap sebagai tukang nyampah, tetapi juga untuk menghindari fitnah yang bisa ditimbulkan lewat kejadian tersebut. Dari sini kita kembali mempertanyakan kepada diri kita sendiri, sebenarnya siapa kita dan mengapa kita harus melakukan pembatasan ego ketika bergaul?
Tidak hanya pembatasan dari segi substansi yang dibicarakan saja, tapi ternyata ada pembatasan lain yang dialamatkan kepada golongan-golongan. Di dalam Islam misalnya, adalah suatu kewajiban bagi wanita untuk menutup aurat, yang tentu saja diimbangi dengan kewajiban pria dalam menundukkan pandangannya. (Lihat QS. An-Nur: 30-31). Ada pula aturan-aturan mengenai toleransi dan bagaimana batasannya dengan akidah, yang sering kali memicu timbulnya pergesekan sosial. Pergesekan ini utamanya terjadi pada negara dengan tingkat heterogenitas tinggi seperti Indonesia. Kemudian, apakah benar aturan dan pembatasan tersebut hanya perihal semu dan palsu, atau justru merupakan sesuatu yang sejatinya melindungi, pertanyaan tersebut (lagi-lagi) ditanyakan oleh diri kita sebagai seorang wartawan dan hanya diri kita sendiri yang akhirnya sanggup menjawab.
Pada akhirnya, kita kembali berkontemplasi tentang siapa diri kita sebenarnya, bagaimana kita harus menjalani kehidupan sosial, kemana arah kehidupan kita seharusnya berjalan dan bagaimana akhir dari kehidupan tersebut. Dan sebaik-baik wartawan adalah yang berhasil merekam banyak informasi tentang diri mereka sendiri sebelum beranjak untuk mengenali orang lain.

You May Also Like

0 komentar