TEMAN HIDUP

by - Desember 18, 2016


Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Pembawa sejuk, pemanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Kau jiwa yang slalu aku puja.

Penggalan lirik lagu “Teman Hidup” dari Tulus sejenak mengingatkanku pada kenangan di mana aku dan seseorang (yang selanjutnya kusebut sebagai teman hidupku) pertama kali bertemu. Adakah dari kalian yang merasa deg-degan ketika pertama kali bertemu dengan seseorang? Kalau aku tidak deg-degan, tapi bingung. Kenapa bingung? Jawabannya adalah karena kita  bertemu pertama kali melalui Facebook, bukan bertemu di dunia nyata.

FACEBOOK
Pada 22 Mei 2016 kita pertama kali dipertemukan oleh takdir melalui pesan di Facebook. Kalau kalian mengira bahwa dia yang mengirim pesan duluan, kalian salah. Akulah yang pertama kali mengirim pesan padanya. Pesan kukirim dengan menggunakan bahasa inggris (nggak tau kenapa saya kemalan banget pake bahasa inggris segala), yang intinya adalah menanyakan “siapa kamu?” dan “dari mana kamu tahu akunku?”.

Ini berawal setelah dia mengirim permintaan pertemanan di Facebook. Aku mulai bertanya-tanya mengenai siapa dia. Segera aku melihat profil dan foto-foto yang ditampilkan. Tentu tidak semua informasi dapat kuakses karena saat itu aku belum memutuskan untuk menerima permintaan pertemanannya atau tidak. Namun sejauh kuamati dia berdasarkan apa yang terlihat melalui Facebook, sepertinya ia bukan orang biasa. Dia pernah berkuliah di Insititut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (alias ITS) sebagai mahasiswa yang mengambil jurusan geodesi. Ia juga pernah menjadi Kepala Departemen di organisasi yang ia ikuti (re: BEM). Mayan lah, kece.

Dia pernah ke Jepang dan ke Jerman, dua dari sekian negara yang sangat ingin aku kunjungi setidaknya sekali seumur hidupku. Aku tidak begitu tahu apa saja yang ia lakukan di Jepang. Dari foto yang terlihat, ia seperti melakukan semacam penelitan. Sepertinya ia senang sekali di sana. Sebab banyak sekali foto yang ia unggah, terutama berkaitan dengan tempat wisata. Salah satu tempat wisata yang dikunjungi adalah studio Doraemon. Sebagai penggemar  serial animasi Doraemon, tentu aku merasa gemas. “Kampret banget ini bocah udah foto-foto di sana. Siapa sih dia?”, pikirku.

Kegiatan stalking kembali berlanjut. Menurut informasi yang ia tampilkan di Facebook, saat ini ia sedang berkuliah di Jerman. Ia mengambil jurusan Earth Oriented Space Science Technology di Technische Universität München, Germany. Aku sempet bingung, sebenarnya dia tuh kuliah di ITS apa di Jerman? Tapi kok di foto-fotonya dia udah lulus? Kegiatan stalking berakhir dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab.  Karena sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya, maka aku segera menerima permintaan pertemanannya.

Namun aku tidak langsung mengiriminya pesan, aku menunggu beberapa hari barangkali dia yang menyapa duluan. Kan malu ya, masak cewek nyapa duluan. Tapi ternyata penantianku bertepuk sebelah tangan. Dia ternyata tak kunjung menyapaku. Akhirnya malam itu langsung saja aku kirimi dia pesan di Facebook. Aku mengirim dengan bahasa yang sopan dan baku. Tentu saja, karena dia adalah orang asing yang belum kukenal. Usai pesan terkirim, aku dengan harap-harap cemas menanti balasannya. “Kalo kaga dibales gua bakalan......”

Cengkling! Ternyata pesanku dibalas tak lama setelah aku mengirimnya. Terus terang darahku mengalir deras. Aku deg-degan.Wih dibales!”. Ia membalas pesanku dengan menggunakan bahasa inggris pula, dengan penulisan dan bahasa yang tak kalah baku. Aku membalas pesannya dengan menanyakan mengenai beberapa kegelisahanku yang sebelumnya sempat tak terjawab. Usai mengobrol agak banyak, barulah aku baru tahu bahwa yang ia lakukan di Jerman adalah melanjutkan kuliah S2. Wih, lagi ngelanjutin S2? Yakin? Kenapa wajahnya masih imut nggak S2 banget? Nggak paham ane.

Aku semakin penasaran dengannya tapi rasa kantukku tak dapat diajak kompromi. Di sisi lain, aku tak mau obrolan ini berakhir. Dengan agak nggak punya malu malu-malu aku mencoba meminta id LINE-nya barangkali ia berkenan dan ternyata dia dengan senang hati memberinya. Ia sepertinya juga ingin mengobrol lebih lanjut denganku. Apakah ini pertanda bahwa dia..... ah lupakan.

LINE
Semenjak itulah kami berkenalan. Aku banyak bertanya mengenai pengalamannya di  Jepang dan Jerman, juga sesekali bertanya mengenai kehidupan pribadi dan organisasi. Aku juga menanyakan bagaimana dia bisa mengetahui akun Facebookku dan kemudian memutuskan untuk mengirim permintaan pertemanan. “Aku tau Facebookmu dari si X, dia temenku SMP. Aku mulai stalking Facebookmu. Menurutku kamu tidak hanya cantik tapi juga menarik”. #tratakdungcess

Obrolan yang awalnya kaku dan menggunakan bahasa baku perlahan mulai mencair. Dia memang bukan tipe orang yang heboh dan humoris, tapi sejauh ini ia cukup bisa menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan. Dia juga bertanya mengenai kehidupan kuliahku dan sesekali kehidupan pribadiku. Aku kagum padanya, dan semakin kagum setelah saling berbagi banyak cerita dan pengalaman. Oh ternyata dia dulu gini ya. Oh ternyata sekarang dia gini ya. Hingga aku menyadari bahwa sejak saat itu aku merasa bahwa ia adalah candu. #eakk

LDR (LOOOOONG DISTANCE RELATIONSHIP)
Semakin hari obrolan kami semakin menarik. Kami mendiskusikan berbagai macam hal, mulai dari yang receh hingga yang dollar serius. Sesekali ia berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman (meski kadang dicampur sama bahasa Jawa wkwkwk), yang kusambut dengan jawaban “ajarin aku bahasa Jerman dong? Dulu aku pernah bisa, tapi sekarang udah lupa karena ngga sering dipakai”. Lambat laun aku merasa bahwa masing-masing dari kami saling menyukai, hingga suatu saat aku tak tahan untuk menanyakan mengenai pertanyaan klasik seperti “kamu suka sama aku? Kalau suka tembak dong wkwkwkwkwk”. “Iya, nanti kalau aku pulang ke Indonesia ya? Aku nggak mau berkomitmen kalau engga face to face”. Aku sempat ragu-ragu untuk melanjutkan ini, namun ketertarikanku padanya meluluhkan itu semua.

Menjalin hubungan jarak jauh bukan perkara mudah, tentu saja. Perbedaan ruang dan waktu (selisih 5 jam) dan juga sinyal yang sering tak bersahabat membuat kami terkadang kesulitan berkomunikasi. Bagaimana tidak? Ketika ia berkegiatan, aku beristirahat; ketika dia beristirahat, aku berkegiatan. Belum lagi kalo di timeline instagram ada yg lagi upload sama pasangannya ughhh kita cuma bisa melipir. Tapi sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar, sebab yang tidak menjalin hubungan jarak jauh pun bisa merasa seperti jauh satu sama lain. “Ini semua tantangan, kita harus bisa melewatinya”. #pret

WE MEET
Setelah menjalin hubungan jarak jauh selama beberapa bulan, akhirnya kami bertemu. Kamu tahu rasanya seperti apa? Rasanya seperti feses jenis bedegelen yang baru saja dikeluarkan dari rektum. LEGA!! SENANG!! Like literally i’m frickin happy because he does exist in this world. Dia mengajakku jalan-jalan ke Malll untuk nonton berdua (kencan standar kok, rek). Sebelum itu ia mampir ke rumahku dan berpamitan dengan mamak. “Ibu, ini anaknya saya curi sebentar ya untuk diajak jalan-jalan”, ucapnya. Aku cuma nyengir lalu spontan memukul bahunya pelan.
Ia tidak disini untuk waktu yang lama, lebih tepatnya hanya satu bulan. Hanya satu bulan waktu yang ia punya untuk kembali ke Indonesia. Selepas itu ia akan kembali lagi melanjutkan tahun keduanya di Jerman. Satu bulan itu menjadi waktu yang amat berharga bagi kita yag tiap detiknya amat kita syukuri. “Kok kamu cuma disini sebulan doang?” “bersyukurlah, sebab temen-temenku yang lain aja ada yang 4 tahun nggak pulang ke Indonesia”.

AYAH, SAHABAT, KEKASIH
Meski perawakannya imut, sebenarnya dia amat dewasa. Perbedaan umur kami hanya 2 tahun (tentu dia lebih tua), namun aku merasa bahwa ia seperti seorang ayah yang menjaga anaknya. Ia tak henti memberi nasehat jika aku keluar dari jalur yang seharusnya, ia juga peduli terhadap kesehatanku. Aku merasa nyaman dan terlindungi bukan iklan asuransi. Aku belajar banyak darinya, dari kedewasaannya dalam berpikir dan bertindak. Di samping dewasa, ia juga pendengar yang baik. Di kala aku butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahku, dia adalah orang yang tepat. Layaknya seorang sahabat, dia memelukku ketika aku sedih, dan memotivasiku untuk bangkit kembali. He is the best bestfriend ever. Sedangkan sebagai seorang kekasih, ia memang bukan tipe laki-laki romantis (aku menyadari itu), namun aku tidak memaksanya untuk menjadi romantis dan suka gombal seperti cowok pada umumnya. I let him to be him, because he did the same to me.

FINALLY
Tulisan ini tidak dibuat untuk ajang pamer atau semacamnya. Tulisan ini dibuat agar setidaknya masing-masing dari kami tidak saling melupakan bahwa sebelum kami bertemu kami benar-benar hanya orang asing satu sama lain. Begitu pula sebaliknya, ketika kami sudah saling mengenal semoga tidak ada yang merasa saling asing satu sama lain.

You May Also Like

0 komentar