Lovely Man: Karena Semua Orang Pantas Dicintai

by - Desember 30, 2015



“Lovely Man”, sebuah film keluarga yang dikemas dalam konsep super indie. Film karya Teddy Soeriaatmadja tersebut menyuguhkan secara intim dialog – dialog antara kedua tokoh utama, yaitu Ipuy (sang ayah) dan Cahaya (sang anak). Menyuguhkan relasi absurd antara seorang bapak yang  transgender dengan anak gadisnya yang berjilbab.
Masing – masing tokoh dalam Lovely Man menampilkan permasalahan personal, Ipuy (yang diperankan oleh Donny Damara) dengan masalah orientasi seksual dan permasalahan keluarga dan Cahaya (yang diperankan oleh Raaihanun) dengan permasalahan hamil diluar nikah serta keinginan yang keras untuk mengungkap identitas ayahnya. Adegan demi adegan memaksa penonton untuk tune-in menjadi pendengar setia, tidak berbelit – belit namun cukup membuat audiens betah berlama – lama untuk menikmati apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mengambil latar Jakarta dengan gemerlap kehidupan malamnya, Lovely Man berusaha menampilkan rahasia umum dari kelompok LGBT, kelompok yang mungkin di Indonesia masih termarjinalkan secara sosial budaya. Background adegan yang dibuat samar dengan kerlap –kerlip lampu menunjukkan bahwa sang pembuat film ingin penonton fokus pada tokoh utama saja, berikut cerita dan dialog apa yang akan disampaikan oleh mereka.
LGBT sebagai sebuah isu sensitif (di Indonesia khususnya), tentu dapat dikaji dari berbagai perspektif, mulai dari semiotika, hermeneutika, kajian agama hingga teori kritik. Dari perspektif semiotik misalnya, terlihat bagaimana dalam film “Lovely Man” seorang LGBT disimbolkan sebagai suatu hal yang menyimpang, salah dan tidak sesuai dengan konvensi yang ada. Konvensi mengenai tampilan pria dan wanita yang “sesuai kodrat” seolah ditentang oleh munculnya fenomena LGBT sebagai antitesis dari tampilan pria dan wanita pada umumnya.
Dalam film tersebut, kelompok LGBT (masih) dianggap sebagai bahan olok – olok, seolah ia tidak lebih baik daripada non-LGBT. Mereka juga masih dianggap kelompok “kelas dua” yang memang pantas untuk dijauhi dan disisihkan dari masyarakat. LGBT ditolak bumi, seperti Syiah ditolak Sampang. LGBT terkatung – katung bagai Rohingya, menanti keadilan yang tak kunjung diwacanakan.
Padahal kalau kita tengok, banyak sekali cendekiawan dan penemu seperti Leonardo Da Vinci, Benedict Anderson dan Alan Turing yang menorehkan prestasi, meski notabene mereka adalah seorang LGBT. Pada intinya, LGBT tidak lebih buruk dan tidak lebih baik dari orang-orang normal yang hetero. Mereka bukan berarti tidak bisa berprestasi. Jangan mendangkalkan pikiran dengan mudah terjebak pada stereotip – stereotip yang ada.
Hal yang juga menarik dari film ini adalah bagaimana dalam film ini terdapat paradigma yang dipertukarkan. Ipuy dengan segala kesempurnaan pada awalnya ketika dia menjadi lelaki, dibalik 180 derajat menjadi sosok yang gemulai. Yang lebih mengenaskan lagi adalah adegan ketika Ipuy diserang dan disodomi oleh gerombolan preman, namun ipuy tidak melawan. Sungguh sangat janggal jika melihat otot bisep dan trisep yang ada pada Ipuy tidak berfungsi  sama sekali (yang menurut orang – orang lelaki berotot adalah lelaki kuat dan sanggup melawan). Lagi-lagi, ditunjukkan paradigma yang dipertukarkan yaitu bahwa sekekar apapun otot banci, jika banci ya banci, tetap tidak bisa macho.
Ini berhubungan dengan teori konstruktivitas sosial, dimana nilai – nilai kepercayaan, sikap dan perilaku sesorang adalah suatu bentukan. Bentukan darimana? Tentu saja bentukan sosial, sesuai dimana ia tinggal dan membaca situasi.
Selan dari sisi semiotika, fenomena LGBT dapat pula dikaji melalui teori hermeneutika. Hermeneutika secara sederhana adalah cara untuk menafsirkan dan mengartikulasikan teks. Dalam hal ini, LGBT adalah suatu teks yang bisa diamati dan ditafsirkan. Menurut Gadamer, makna suatu teks adalah terbuka dan tidak terbatas pada maksud si pengarang. Pemahaman merupakan suatu tindakan produktif, bukan merupakan reproduksi dari naskah aslinya. (Hidayat: 2006).
Kita dapat memaknai itu sebagai suatu antitesis yang (pasti) berujung pada terpecahnya kelompok menjadi beberapa golongan, yaitu golongan yang pro dan kontra. Banyak sekali penafsiran dan pendapat dari dua golongan ini, yang sangat menarik untuk disimak. Namun disini tidak akan terlalu dibahas debat kusir antara golongan ekstrim tersebut.
Menanggapi fenomena LGBT, kemana sebaiknya kita menapakkan kaki? Apakah lebih baik kita menolak secara keras, ataukah kita justru mendukung mereka (dengan tameng kemanusiaan), itu semua hak subjektif masing – masing dari kita.
Kalau saya sih, dalam menyikapi fenomena LGBT  lebih suka menggunakan analogi “babi haram”. Memakan babi itu haram, sama dengan larangan (dalam kitab suci tercinta) bahwa LGBT juga dilarang. Tapi meski babi itu haram, apakah kita secara buta membunuh babi – babi itu? Bukankah kita membiarkan babi-babi itu hidup? Lagi pula apakah kita akan membunuh babi-babi tak bersalah itu jika mereka memang secara fitrah diciptakan (oleh-Nya) sebagai hewan yang tidak layak dikonsumsi? Sampai di titik ini saya tidak berusaha menyamakan kelompok LGBT dengan babi, ini hanya analogi. Contoh lain, apakah kita membenci anjing hanya karena air liurnya dianggap rusuh? Sekali lagi, saya sama sekali tidak berusaha menyamakan kelompok LGBT dengan anjing, ini hanya analogi.
Kelompok LGBT memang tidak hadir secara sulapan, tetapi merupakan hasil dari sosialisasi budaya. Pun, fenomena tersebut juga bukan merupakan keturunan secara genetik. Magnus Hirscheld (1899) mengungkapkan bahwa tidak ada orang yang terlahir sebagai homoseksual sejak lahir. Artinya, LGBT adalah pilihan, sama seperti saat kalian memilih kampus, memilih pasangan, memilih makanan, atau saat kalian memilih antara NU dan Muhammadiyah. Atau ada dari Anda yang tidak benar – benar memilh? Itu urusan Anda.
            Ngomong – ngomong mengenai budaya, saya mempunyai seorang teman yang orientasi seksualnya adalah gay. Jangan berpikiran aneh – aneh apakah ia suka clubbing atau minum – minuman keras di bar karena tidak punya pelampiasan untuk menaruh hasrat seksualnya. Ia adalah lulusan pesantren, sudah melahap habis Ta’limul Muta’allim, Fiqih, Nahwu Sorof serta Aqidatul Awam wal Akhlaq. Lantas, bagaimana ia bisa menjadi seorang gay? Saya curiga bahwa budaya “mengkotak – kotakkan” antara murid laki – laki dan perempuan dalam tempatnya belajar justru menjadi pemantiknya. Karena terpenjara dalam kungkungan akhi – akhi sehingga tidak dapat melirik akhwat – akhwat cantik, maka ia meluapkan hasratnya pada sesama jenis. Bukan tidak mungkin kan?
Sementara disisi lain, para pengampu (baca: ulama’) mereka menentang keras saling “mencintai” sesama jenis. Tak diragukan, dua kali teman saya (dan mungkin kawan – kawannya sesama gay) ditembak secara keras, yaitu secara fisik dan psikologis.
Kalau masalah agama, ya jelas Ahlul hadist sangat menentang keberadaan LGBT. Rasanya ingin membuang mereka dari peradaban dan melempar mereka kepada umat zaman Nabi Luth yang diazab karena perilakunya yang keji itu. Yang pasti, ini masalah budaya, bukan masalah genetik. Kalaupun masalah genetik, mungkin para radikalis yang kontra terhadap LGBT itu rela mengumpulkan dana untuk mengubah gen kelompok LGBT supaya sama normalnya dengan mereka.
Masih mengenai budaya, saya sempat sedikit miris mendengar pernyataan dari lingkungan yang mengatakan bahwa berteman dengan kelompok LGBT akan membuat kita ketularan menjadi LGBT, nanti  buncit – buncitnya kita akan mengidap HIV/AIDS karena pergaulan yang tidak sehat. Padahal kalau dipikir, lebih banyak mana antara LGBT yang mempengaruhi orang normal untuk menjadi mereka, dengan orang normal yang memaksa kelompok LGBT untuk sama seperti mereka?
Saya teringat dengan cybernetics of system theory dimana komponen dari sistem yang dianggap menyimpang (kelompok LGBT) selalu berusaha dikembalikan pada track oleh komponen yang lainnya (kelompok non-LGBT). Tapi, bagaimana jika corrective feedback yang dilakukan oleh kelompok non-LGBt ini tidak tepat sasaran, melainkan dari awal kelompok LGBT tidak merasa sejalan dengan mereka? Itu perkara lain.
Pada intinya, saya akan mengajak Anda kepada Teori Kelas (Karl Marx) sebagai kesimpulan. Teori kritik Marx, atau yang lebih dikenal dengan teori kelas mengatakan bahwa ada dominasi oleh kaum borjuis atas kaum proletar. Dalam hal ini, kelompok LGBT bisa dianalogikan sebagai kaum proletar, sedangkan kelompok non-LGBT dilihat sebagai kaum borjuis. Artinya, ada dominasi kelompok non-LGBT kepada kelompok LGBT, yang dalam hal ini membuat kelompok LGBT termarjinalkan secara sosial budaya, mendapatkan kekerasan verbal dan nonverbal, dsb.
Dalam teori kritik, aspek yang paling penting adalah kuasa (power). Pierce & Dougherty (2002) mengatakan bahwa konsep kuasa berhubungan dengan kontrol dan dominasi, yang merupakan ide utama dari semua teori kritik. Kelompok yang mempunyai kuasa dan dominasi akan dapat melakukan perlawanan, dan saya berharap ada semakin banyak kelompok macam ini yang mengadvokasi kelompok LGBT di era ini. 

Jika ini terkesan terlalu liberal, maka izinkan saya untuk melempar balik kepada Anda sebuah pertanyaan: sebenarnya apa ideologi Indonesia saat ini?

You May Also Like

1 komentar